29.9.14

Diskon Pembersihan Karang Gigi

Miliki gigi sehat, putih dan bebas bau mulut dengan membersihkan karang gigi di Schön dental cukup dengan Rp 250.000,- (harga awal Rp 350.000,-) 


Untuk pembelian voucher klik disini. Buruan sebelum kehabisan. Promo berlaku s/d Desember 2014.

30.11.12

HALITOSIS


Cerita tentang bau mulut merupakan cerita pengalaman hampir semua orang. Sayangnya bau mulut merupakan tema yang sangat tabu dan personal untuk didiskusikan. Bahkan dengan personel medis, seperti dokter maupun dokter gigi, jarang ada orang yang mau mendiskusikan masalah bau mulutnya serta mencari jalan keluar untuk menghilangkan masalah ini. Artikel ini bertujuan untuk memberi informasi mengenai bau mulut dan cara-cara untuk mengatasinya.

 

Di jaman Mesir kuno, waktu bangun pagi disebut sebagai ´jam bau mulut´. Data epidemiologis Jepang menunjukkan 14.5 % dari 33.000 orang Jepang yang berusia di atas 14 tahun mengalami masalah dengan bau mulut. Pada masyarakat Amerika, 43% dari penduduk Amerika Serikat yang berusia di atas 60 tahun mengalami bau mulut. Di Swiss, 32% dari penduduk kota Bern juga mengalami bau mulut. Yang lebih mengejutkan, di Jerman 76% dari dokter gigi yang mengikuti survei mengalami bau mulut.

 

Istilah medis bau mulut adalah Halitosis (Foetor ex ore). Definisi harafiah foetor ex ore merupakan bau yang berasal dari dalam mulut (intra oral). Sedangkan Halitosis menunjukkan bau atipikal yang bermula dari pernafasan yang keluar lewat hidung maupun mulut. Jadi sumber bau dapat berasal dari dalam mulut (intra oral) maupun di luar mulut (extra oral). Jadi istilah yang lebih sering digunakan adalah Halitosis.

 

Di sekitar kita sering ditemukan orang-orang yang sering ´merasa´ mulutnya bau setiap saat. Bahkan setelah diperiksa oleh dokter secara teliti, tidak ditemukan adanya bau mulut dan penyebab dari terjadinya bau mulut. Hal ini disebut sebagai Halitosis semu (pseudo-halitosis). Pada orang.-orang yang mengalami halitosis semu, hanya konsultasi psikologis yang dapat meyakinkan bahwa dirinya tidak mengalami kondisi bau mulut.

 



Bila kita bangun pagi, mulut terasa kering dan pasti terasa bau kurang sedap dari dalam mulut. Hal ini disebut halitosis fisiologis (normal). Penyebabnya adalah berkurangnya aliran ludah dalam mulut, dimana fungsi ludah sebagai cairan pencuci rongga mulut sehingga mulut terasa kering. Selain itu intensitas bau mulut pagi hari tergantung pada makanan apa yang kita konsumsi kemarin dan tingkat stress.

 

Jadi keadaan bau mulut mana yang perlu dianggap serius dan perlu pertolongan dokter atau dokter gigi? Keadaan true halitosis (atau disebut juga halitosis patologis) inilah yang perlu mendapat perhatian khusus. Seperti sudah dijelaskan di atas, penyebab bau mulut bisa berasal dari dalam mulut maupun luar mulut. Tetapi berdasarkan berbagai penelitian, sebagian besar penyebab bau mulut berada di dalam mulut. Jadi dokter gigi adalah dokter yang tepat untuk didatangi untuk mengatasi bau mulut. Hanya 8% dari seluruh kasus yang memerlukan penganganan dokter THT (Telinga, Hidung, Tenggorokan). Penanganan oleh dokter penyakit dalam lebih kecil lagi, hanya 1% dari seluruh kasus bau mulut.

 

Penyebab Bau Mulut

Bau yang keluar dari dalam mulut seringkali berbau seperti gas sulfur. Gas sulfur ini merupakan hasil metabolisme bakteri di dalam mulut. Jadi semakin banyak sisa makanan yang ada di dalam mulut, semakin banyak makanan yang kita sediakan untuk bakteri di dalam mulut yang nantinya memproduksi gas sulfur tersebut. Lokasi yang paling berperan dalam bau mulut adalah lidah. Bentuk lidah yang berlekuk-lekuk dan tidak rata merupakan favorit sembunyinya bakteri dan sayangnya juga tempat yang sangat mudah bagi sisa makanan untuk tersimpan.

 

Penyebab lainnya kebanyakan adalah kesalahan dokter gigi dalam menempatkan tambalan, mahkota tiruan, dan gigi palsu. Tambalan maupun mahkota tiruan yang ´menggantung´dapat menjadi tempat sembunyinya sisa makanan dan bakteri. Gigi palsu memiliki rongga mikro di permukaannya. Bila sudah lama digunakan, dapat terjadi deposit kotoran di dalam rongga-rongga tersebut. Ini juga dapat menimbulkan bau yang tidak sedap.

 

Pada kondisi atau penyakit tertentu, aliran air liur (saliva) dapat berkurang. Peran air liur yang paling penting adalah sebagai pencuci alami dari rongga mulut. Bila aliran air liur berkurang, maka dapat dipastikan kotoran yang terdapat dalam rongga mulut tidak tercuci dengan baik dan bisa menimbulkan bau yang kurang sedap. Keadaan yang dapat mengurangi aliran air liur seperti stress emosional, pemakaian obat-obatan tertentu, atau sindrom Sjögren-Sicca.

 

Jadi dapat disimpulkan bahwa penyebab bau mulut terutama berasal dari dalam mulut. Tetapi ada beberapa keadaan medis yang dapat menjadi penyebab bau mulut, seperti tonsilitis, sinusitis, pharyngitis, rinitis kronis, Lues, diphtherie, bronchitis, pneumonia, gangren paru, esophagitis, hepatopathie, trimethylaminurie, mononukleosis, dan tumor di sekitar hidung dan tenggorokan. Kondisi-kondisi tersebut dapat Anda diskusikan dengan dokter Anda.

 

Penanganan Bau Mulut

 

Penanganan bau mulut dilakukan tergantung dari penyebab utamanya. Pada keadaan halitosis semu atau halitofobia, hanya perlu terapi suportif dimana peran konselor atau psikolog sangat penting. Walaupun kelihatannya mudah, tetapi penanganan halitofobia ini termasuk yang paling sulit.

 

Penyebab paling umum dari halitosis adalah adanya deposit kotoran pada lidah terutama sisi bagian dalam lidah. Perbaikan kebersihan mulut dianggap paling utama dalam mengatasi halitosis. Penggunaan pembersih lidah sangat dianjurkan. Penyikatan lidah kurang efektif karena bulu sikat gigi terlalu lunak dan luas permukaannya kurang besar. Penggunaan pembersih lidah secara teratur setelah menyikat gigi dapat membantu mengurangi bau mulut.

 

Pemakaian obat kumur sangat populer dan dianggap dapat menghilangkan bau mulut secara instant. Banyak dari kita yang menggunakan obat kumur saat akan bertemu klien, ke pesta, bahkan sebelum ke dokter gigi. Perilaku ini menunjukkan adanya ketakutan bahwa bau yang kurang sedap dideteksi oleh orang di sekitar kita. Untungnya penggunaan obat kumur atau bahan kimia lainnya memang dapat membantu mengurangi bau mulut dengan cara netralisasi zat sulfur yang dihasilkan bakteri serta membantu mengurangi jumlah bakteri di dalam mulut karena efek anti bakteri dari obat kumur.

 

Bukan merek dari obat kumur yang perlu diperhatikan, tetapi kandungan di dalamnya. Kandungan chlorhexidin sering dianggap sebagai Gold-Standard antiseptik rongga mulut. Tetapi efek sampingnya dapat berupa pewarnaan gigi, lidah dan meningkatnya jumlah karang gigi bila digunakan secara teratur. Oleh karena itu, penggunaan obat kumur yang mengandung chlorhexidin secara rutin tidak dianjurkan dalam mengatasi bau mulut.

 

Mungkin kita sering mendengar dari iklan di media massa, adanya kandungan triclosan dan zinc dalam pasta gigi. Ternyata triclosan memiliki efek anti bakteri dan mampu mengurangi kadar zat sulfur dalam mulut secara signifikan bila digunakan secara teratur. Zinc juga mampu menetralisir zat sulfur yang diproduksi bakteri.

 

Bila pemakaian pembersih lidah dan obat kumur yang tepat tidak menyelesaikan masalah bau mulut Anda, dapat dipertimbangkan untuk mengunjungi dokter gigi Anda untuk konsultasi lanjutan. Dokter gigi akan memeriksa apakah terdapat karang gigi, tambalan dan mahkota tiruan yang kurang baik, adanya lubang di gigi, adanya sisa akar gigi, dan keadaan gigi tiruan Anda. Dokter gigi juga berperan sebagai dokter yang akan merujuk ke dokter THT maupun internis bila ditemukan penyebab bau mulut yang berasal dari luar mulut.

 

Demikian artikel tentang bau mulut atau halitosis ini. Semoga dapat membantu Anda menentukan pilihan yang tepat dalam mengatasi masalah bau mulut.
 
Untuk pelayanan  profesional untuk mengatasi masalah bau mulut Anda, dapat menghubungi
 
SCHÖN DENTAL
021-54360253

7.9.12

Edutravelling Biodenta - Commed Implant at Taiwan


Welcome at Taipei!! The signboard at Taipei-Taoyuan International Airport greets us, dentists from Indonesia, as we landed in Taiwan. It is time for implant course and a little bit travelling in Taiwan. This time the course is all about one piece implant.

The main lecturer, Dr. Jack Lin, is a well-known implantologist as well as the founder of ComMed implant. The other lecturer was Dr. Wang Chau Hsiang, Professor in school of dentistry, Kaohsiung Medical University. He explains all things about viscoelastic properties of oral mucosa and periodontal ligament. His experiences in Japan and Germany (with Prof. Dr. Körber, Universität zu Kiel) gave us insight about conus crown (Konuskronen) and telescope dentures.
 

 
Dr. Jack Lin presents his case on full mouth reconstruction
 
 
Prof. Sheng Yang Lee from School of Dentistry, Taipei Medical University was also giving lectures about bone grafts. He invented synthetic bone material which named ´Bonagraft´and had been used many times for simple bone augmentation and sinus lifting.
 
After thorough explaination about one piece implant, sinus lifting, bone substitute materials, and telescopic dentures, the course was closed with hands-on in implant insertion, sinus lift and suturing which was guided by Dr. Randy Huang, one of the senior dentists in Yess Dental Clinic owned by Dr. Lin.
 
 
 
Sinus Lift hands-on
 
 
In the last day of the course, Dr. Lin did some implant and sinus lift surgery. The surgery was conducted in his clinic, Yess Dental Clinic. He did some extra-ordinary surgery, ie. 12 implants were inserted within one hour!
 
 
Live Surgery where 12 Implants were inserted in one sitting
 
 
In between the courses, culinary and tourism objects around Taipei were also visited. Some of them were accompanied also by Dr. Lin himself.  Shilin night markets, Jiufen old street, Tamsui village, and Taipei 101 were some of them.
 
Discussion in between lunch




A visit to Hualien

 And at last, the closing of the course with certificates..
 
 
End of the Course
 
 
 Here is the link to website of ComMed dental implant and Biodenta implant
 
For ComMed Implant: www.commed.com.tw
 
 
For Biodenta Implant
 
 
 
 
 
 
 
 

8.11.11

Frenectomy ( Frenuloplasty, Frenotomy, Frenulectomy)

Frenulum is a term of a part of human body that secures or restricts the mobile organ in the body. There are many frenulums in a human body. One of them is frenulum labial which locates inside the upper lip. It is a small fold of tissue that streches to secure the upper lip movements.
The labial frenulum normally attaches above the non-moving gums. But it often attaches to the center of the upper lip and between the upper two front teeth. This can cause a large gap and gum recession by pulling the gums off the bone. A labial frenectomy removes or relocates the labial frenulum. Orthodontic patients often have this procedure done to assist with closing a front tooth gap.
Besides orthodontic usage, patients with denture can benefit from labial frenectomy. When a denture patient's lips move, the frenulum pulls and loosens the denture which can be uncomfortable. This surgery is often done to help dentures fit better.



Intial Situation before frenectomy. The gap between two incisors can not be closed.


Case Presentation

A 14 years old Asian girl has a wide central diastema between her central incisors. The orthodontic treatment has been started a while ago. The gap can not be closed with orthodontic teeth movements because of the ´high´ attachment of the labial frenulum. The frenulum need to be removed and the attachment repositioned at a ´lower position´, ie. inside the upper lip, so that the gap can be closed.


V-Y Frenectomy

After Suture removal. The gap now can be closed with orthodontic teeth movements.

Two weeks after operation


A safe and predictable FRENECTOMY
can be done at Schön Dental..

25.6.11

APEKS RESEKSI


Apeks reseksi (apektomie, amputasi ujung akar gigi) adalah pemotongan ujung (apex) dari sebuah gigi. Tindakan ini merupakan penanganan peradangan, infeksi atau kelainan lainnya di daerah ujung akar gigi (apikal). Contoh kelainan lainnya adalah adanya kista di ujung akar gigi. Sebelum dilakukan apeks reseksi, terlebih dahulu dilakukan perawatan saluran akar (PSA). Lihat postingan sebelumnya tentang Endodontic atau perawatan saluran akar.
Pada tindakan PSA, akses menuju ujung akar diperoleh dari saluran akar melalui mahkota gigi. Berarti dari luar gigi, dapat diperoleh akses menuju ujung akar gigi. Pada apeks reseksi, akses menuju ujung akar gigi dilakukan dari luar, langsung menuju akar gigi, yang berarti melalui tulang yang menutupi akar gigi. Setelah diperoleh akses lewat tulang yang menutupi akar gigi, daerah yang meradang dibersihkan dan ujung akar gigi dipotong kurang lebih 3 mm.

Gambaran Röntgen kista apikal (bulatan hitam di ujung akar geraham pertama)

INDIKASI
Tindakan apeks reseksi diperlukan bila walaupun tindakan perawatan saluran akar normal dan sempurna telah dilakukan, tetap terjadi peradangan, komplikasi, atau kelainan pada ujung akar gigi. Kelainan tersebut dapat berupa banyak hal. Secara umum, indikasi dilakukannya tindakan apeks reseksi adalah sebagai berikut:
·         Peradangan ujung akar gigi disertai dengan resorbsi (pengurangan ukuran ujung akar gigi). Hal ini hanya dapat dilihat pada foto röntgen gigi.
·         Prognosa penyembuhan setelah perawatan saluran akar tidak baik.
·         Setelah perawatan saluran akar konservatif, tidak terjadi perbaikan pada ujung akar karena:
o        Kelainan pada ujung akar terlalu luas dan besar.
o        Kista radikular (yang lokasinya di ujung akar gigi)
o        Kelainan anatomis (contoh: akar bengkok secara ekstrem dan tidak dapat diakses secara endodontik, percabangan saluran akar yang sangat banyak, saluran akar buntu, dan lain-lain)
·         Patahnya instrumen untuk perawatan saluran akar di dalam saluran akar.
·         Fraktur (patahnya) ujung akar di 1/3 ujung akar sehingga sulit mendapatkan pengisian saluran akar yang sempurna.

Resorpsi pada akar gigi geraham


Setelah tindakan apeks reseksi, ujung akar gigi memendek dengan pengisian dari ujung akar gigi

RESIKO OPERASI
Tindakan apeks reseksi biasanya tidak begitu banyak resiko. Resiko yang dapat terjadi karena posisi ujung akar (resiko anatomis). Secara umum, resiko apeks reseksi sama dengan tindakan operatif lainnya di dalam mulut, seperti tindakan pencabutan gigi dan pemasangan implant. Beberapa resiko adalah sebagai berikut:
·         Luka pada saraf dapat menyebabkan bibir terasa tebal.
·         Perdarahan, yang dapat diatasi dengan segera dengan berbagai metode.
·         Terbukanya rongga sinus bila operasi dilakukan pada gigi belakang rahang atas. Tetapi berbagai tindakan operasi dapat segera dilakukan bila komplikasi ini terjadi.
·         Terlukanya gigi sebelah dari gigi yang dioperasi.
·         Goyangnya gigi dan akhirnya diperlukan pencabutan (kehilangan gigi).
·         Kurangnya kekuatan gigi karena sudah dilakukan pemendekan dari panjang gigi (tidak dapat digunakan sebagai gigi penyangga bila dilakukan pembuatan gigi tiruan jembatan).



Gambaran Skematis apeks reseksi. Kiri : keadaan awal, terdapat kelainan di ujung akar gigi. Kanan: setelah operasi.


ALTERNATIF
Tindakan apeks reseksi merupakan tindakan terakhir yang dapat dipilih untuk mempertahankan gigi (untuk menghindari pencabutan gigi). Bila memungkinkan, perawatan saluran akar ulang dilakukan terlebih dahulu sebelum diputuskan untuk melakukan operasi apeks reseksi.

6.4.11

INSTRUCTION BEFORE AND AFTER TOOTH EXTRACTION AND / OR SURGERY

Before the extraction procedures:

Please follow all instructions that you will receive carefully and completely. Inform your dentist about everything that you feel is important with respect to your symptoms and disease.

Please inform your dentist about all medications that you may be taking. If you are taking medications to „thin the blood“, you may not stop taking them without discussing it with your primary care physician and the treating physician.





After tooth extraction:

Please remember that your senses will be dulled and your reactions slowed for a certain period after receiving pain medication or a local anaesthetic agent.

Arrange to be picked up after the procedure and ask your dentist for exact instructions for the period after the operation. Also arrange to have somebody stay with you on the day of the operation. In addition, you may not operate a vehicle during this same period, you should not work with dangerous machinery, nor should you make important decisions. Because of the risk of injury, please do not eat or drink anything until the effects of the anaesthesia have worn off.

Please do not smoke until the wound has healed.

As a rule, swelling occurs after the operation, which will resolve over time. If pain develops, it can be treated very effectively with appropriate pain medication. In both cases, opening the mouth may be restricted.

If post surgical bleeding occurs, it can be stopped by biting on a wad of sterile gauze or a clean handkerchief for approximately 30 minutes. If you develop symptoms which cause you to feel concerned, please contact your doctor or dentist.

If the wound is sutured with a non-absorbable material, the sutures must be removed after approximately 10 days. If packing is placed in the wound, it will have to be changed. It may take 3 to 6 months for the jawbone to completely regenerate. Complete regeneration may be necessary in order to fit a prosthesis later.

In some cases, antibiotics will have to be prescribed in addition to pain medications. Your doctor will provide you with any additional instructions and inform you about appropriate pain medications.

Have a pleasant tooth extraction / surgery experience!!

All About Teeth Extraction

Reasons for Tooth to be extracted
There are several likely reasons why a tooth cannot be saved:

  • The tooth is very loose and can be made to move by applying lip or tongue pressure to it.
  • The crown of the tooth is decayed. The decay extends way below the gum line. It is no longer possible to fit an artificial crown.
  • Chronic inflammation of the root tip is present. The usual endodontic/surgical procedures to treat the inflammation have not been successful in effecting a cure.
  • Because of absence of an opposing or adjacent tooth, the tooth has lifted out of the gum; it is out of alignment or tilted extremely severely.
  • The tooth must be removed as part of orthodontic treatment.



How is tooth extraction performed?
As a rule, teeth are extracted under local anaesthesia – in isolated cases, general anaesthesia is necessary. When the local anaesthetic has taken effect, the dentist will separate the gum from the tooth with a special instrument. He/She then grasps the tooth with a forceps and either pulls it from the jawbone using slow movements or raises it out of the socket with an elevator. If inflammation of surrounding tissues is present, the affected tissue will be removed. If the wound is large or if several neighboring teeth are extracted, gum tissue will be sutured over the wound. Bleeding can be stopped by biting on a wad of gauze for approximately 30 minutes in order to compress the bleeding areas. In addition to suturing the wound, under certain circumstances a special plate (splint) may be placed over the wound and left in place for a specific time in order to protect it. If necessary, materials to stop the bleeding (packing) will be placed in the wound.






Complications

As a rule, tooth extraction is easily tolerated. Severe problems that cannot be managed hardly ever occur. Nevertheless, complications can occur in isolated cases, which will then necessitate additional measures. How likely it is that these complications will occur will depend on your general health condition, your age, your lifestyle, and other factors which can affect the treatment. Complications can occur during and/or after the operation, for example:

·        General reaction: Change in blood pressure, the pulse rate or side-effects related to the nervous system (restlessness, seizures, breathing impairment) can occur in very rare cases due to the medications (e.g. local anaesthetic agent). These side-effects usually disappear by themselves without treatment

·        Injury to the mucosa the tongue, and rarely to the bony tissue can be caused by injections that are needed and the dental instruments. This type of injury is generally harmless and usually heals by itself. In very rare cases, the damage can result in infected pockets of tissue (abscess/needle track abscess) or it can lead to necrosis (death) of tissue.

·        Foreign bodies (e.g. instruments, extracted tooth) can be  swallowed or inhaled. If a foreign body is swallowed, monitoring the patient will generally be adequate. If the foreign body is inhaled, it must be removed by a specialist – usually with the aid of a bronchoscope.

·        Bleeding and post surgical bleeding can occur. As a rule, bleeding can be easily managed; it can be a serious complication in patients who have a clotting disorder or when medications to thin the blood are taken.

·        Infection rarely develops. This can lead to impairment of wound healing or to increased pain in the treated area. Treatment with antibiotics may be necessary.

·        Mild hypersensitivity to the anaesthetic agent or other medications is rare. This is manifested as skin rash, hives, or itching. Severe allergic reaction occurs extremely rarely. In the most unfavorable case, this reaction can be manifested by, for example, life threatening circulatory collapse and necessitates hospitalisation on an intensive care unit.

·        Part of the root can break off during extraction of the tooth. If the retained root cannot be grasped with a forceps, surgical removal will be necessary. Part of the bony wall may need to be removed.

·        A communication between the oral cavity and the maxillary sinus can be created when extracting the tooth because the roots of the upper molars are frequently separated from the maxillary sinus only by a thin bony partition; If this happens, the wound will be closed firmly by a special suture to avoid development of maxillary sinusitis.

·        Fracture of the mandible can occur when extracting certain teeth in the lower jaw if the location of the teeth is unfavorable. This complication will necessitate more extensive treatment.

·        Damage to the nerve of the lower jaw and tongue occurs in extremely rare cases, caused by the injection of anaesthetic agents or the procedure itself. This leads to a loss of sensation of the tongue and the lips which persists for a prolonged period. This condition usually goes away by itself.



Safe dental extraction can be done in 
Schön Dental by Drg. Henri Mudjono.



29.3.11

Kehamilan dan Kesehatan Mulut

Beberapa hari yang lalu, seorang pasien hamil di trimester kedua datang karena gusi yang mudah berdarah. Dari penuturannya, jelas sekali bahwa informasi perawatan gigi dan mulut pada kehamilan sangat minim atau bahkan sama sekali tidak diperoleh. Berikut adalah permasalahan gigi dan mulut pada ibu hamil.

Tampilan Klinis Gingivitis



Penyebab Penyakit Gigi dan Mulut pada Ibu Hamil
Ibu hamil sangat sensitif terhadap perubahan yang terjadi pada tubuhnya, terutama perubahan hormonal. Hormon yang berperan adalah Gonadotropin, Estrogen dan Progesteron. Hormon-hormon ini bertanggung jawab atas terjadinya Gestational Gingivitis / Schwangerschaftsgingivitis (peradangan gusi pada ibu hamil) yang ditandai oleh gusi yang kemerahan, pembengkakan gusi, dan perdarahan dari gusi. Selain itu periodontitis marginalis (peradangan jaringan penyangga gigi) juga lebih sering terjadi dibandingkan wanita tidak hamil.

Perubahan hormonal menyebabkan perubahan keseimbangan flora mulut. Kehadiran flora normal mulut biasanya diimbangi oleh sistem imun tubuh lewat saliva dan cairan gusi. Efek imunosupresi dari progesteron memiliki andil pada meningkatnya koloni bakteri Prevotella intermedia yang memiliki korelasi kuat dengan terjadinya gingivitis. Tingginya kadar estrogen dan progesteron mempengaruhi permeabilitas vaskuler yang berpengaruh pada mikrosirkulasi di gusi sehingga menurunkan kemampuan regenerasi sel epitel gusi.



Gambaran skematis Gingivitis




Akibat Kelainan pada Gusi
Berbagai penelitian menyebutkan bahwa periodontitis pada kehamilan meningkatkan resiko terjadinya kelahiran prematur, rendahnya berat badan bayi, dan kelainan kongenital selama kehamilan. Alasan utama adalah meningkatnya jumlah bakteri dan toksinnya di dalam darah yang nantinya berkontribusi pada peradangan di plasenta.

Pencegahan

Gestational Gingivitis lebih sering terjadi pada wanita yang sebelum terjadinya kehamilan, memiliki penyakit gusi atau periodontitis. Oleh karena itu  wanita muda, terutama yang memiliki kemungkinan untuk hamil, perlu dimotivasi untuk meningkatkan kesehatan mulutnya untuk menghindari hal tersebut di atas. Berbagai metode peningkatan kebersihan gigi dan mulut perlu dilakukan seperti penggunaan benang gigi (dental floss). Dengan penggunaan benang gigi, diharapkan terjadi penurunan bakteri di daerah celah antar gigi.

Selain itu perlu para ibu hamil perlu dimotivasi untuk selalu memeriksakan gigi ke dokter gigi secara rutin selama kehamilan untuk mendeteksi adanya kemungkinan retensi plak. Sebagai contoh, adanya tepi tambalan yang tidak baik, gigi berlubang, maupun adanya karang gigi. Professional dental cleaning sangat dianjurkan dilakukan tiap trimester guna mempermudah pembersihan gigi dan mulut di rumah. Berikut ini adalah checklist untuk tiap ibu hamil.






Checklist Perawatan Gigi Ibu Hamil

  1. Penentuan Resiko Karies pada ibu hamil (dilakukan di dokter gigi)
  2. Konsultasi Gizi
  3. Penjelasan kemungkinan dan resiko penyebaran bakteri dari mulut ibu ke janin
  4. Menurunkan jumlah bakteri dalam mulut (dilakukan di dokter gigi)
  5. Recall ke dokter gigi tiap trimester.


Konsultasikan perawatan gigi dan mulut Anda selama masa kehamilan Anda bersama Drg. Henri Mudjono. Selamat menikmati masa kehamilan Anda.



Schön Dental
Wir machen Ihre Zähne schön
Drg. Henri Mudjono

11.2.11

Molar Hemisektion and restoration (by Drg. Henri Mudjono)

A 19 years old asian female has problem with her right posterior teeth in lower jaw. She has had an unfinished treatment from another dentist because she moved to jakarta from west borneo.
Clinical examination shows that teeth 45 and 46 are necrotic and had received endodontic treatment before.
Tooth 45: no pain, and has little radiolucency in radiograph.
Tooth 46: considerable pain, moderate radiolucency around the mesial root.


clinical situation after mesial root hemisection




Endodontic and apical access for tooth 45 is quite easy to reach. But on the contrary, the mesial root of 46 is blocked (calcified). After a thorough explanation and discussion with the patient, the patient agreed to have her tooth 46 hemisected. First of all, the endodontic treatment must be finished, followed by hemisection (or premolarisation) and restoration using rigid partial denture.
For the success rate and longevity of the hemisected root to be higher, oral hygiene instruction with daily dental floss is recommended.


hemisected root



Final restoration



25.1.11

FAQ Implant

Belakangan ini, saya terus dihujani pertanyaan-pertanyaan seputar implant. Bentuk implant dapat dilihat di posting sebelumnya yang berjudul ‘Dental Implant: bring back the smile’. Di posting tersebut ditampilkan foto sesaat setelah pemasangan, pembukaan implant, dan kemudian pemasangan mahkota tiruan (giginya).
Artikel ini untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar implant yang biasa ingin diketahui oleh banyak orang. Semoga bisa membantu memahami tentang implant. Selamat membaca.

Gambaran Rontgen sebuah implant


Apa Keuntungan Pemasangan Implant?
Penemuan implant gigi merupakan jawaban dari keterbatasan tehnik pemasangan gigi tiruan, baik gigi tiruan lepasan maupun cekat. Salah satu yang paling utama adalah melindungi tulang dari resorpsi. Apa itu resorpsi? Setelah gigi dicabut, tulang di sekitar gigi (disebut juga tulang alveolar) akan menyesuaikan bentuknya dimana tulang tersebut tidak perlu lagi menyangga gigi (karena sudah dicabut). Penyesuaian bentuk tersebut berupa pengurangan tinggi dan lebar tulang yang disebut juga resorpsi. Bila masih ada gigi, tulang alveolar berfungsi menerima tekanan kunyah. Sedangkan setelah pencabutan gigi, tulang tidak berfungsi (inaktivitas). Seiring berjalannya waktu, resorpsi terjadi lebih banyak akibat dari inaktivitas bagian tersebut.
Keuntungan kedua adalah mungkinnya pembentukan gigi tiruan cekat (tidak perlu dilepas) tanpa mengorbankan struktur di sekitar implant. Dengan cara konvensional, yakni dengan pembuatan gigi tiruan jembatan, kadang gigi sehat (normal) perlu diasah untuk berfungsi sebagai gigi penyangga gigi tiruan cekat.
Keuntungan lainnya adalah sebagai berikut:
1.       Resiko pemasangan implant sangat kecil.
2.       Biokompatibilitas bahan pembuat implant sudah teruji secara klinis.
3.       Prognosa (kemungkinan keberhasilan) sangat tinggi.
4.       Secara ekonomis sangat efisien dan menguntungkan karena tingkat keberhasilan yang tinggi dan daya tahan yang sangat lama di dalam mulut.



Apa saja Resiko pemasangan Implant?
Secara umum, resiko pemasangan implant sangat kecil dan jarang terjadi. Tentu saja ada rasa nyeri pada hari pemasangan implant karena dilakukan prosedur bedah minor. Kemungkinan rembesan darah atau sedikit bengkak juga hal yang sangat normal setelah tindakan. Tetapi dibandingkan berbagai tindakan invasive di kedokteran gigi, pemasangan implant dapat digolongkan sebagai tindakan dengan resiko yang minimal. Salah satu resiko berupa lepasnya implant. Lepasnya implant beberapa hari / minggu setelah pemasangan dapat terjadi pada kasus-kasus tertentu oleh karena berbagai alasan seperti kecerobohan operator atau gangguan penyembuhan. Tetapi menurut berbagai literature, resiko tersebut berada pada angka di bawah 5 % . Resiko dapat diperkirakan melalui pemeriksaan awal sebelum pemasangan implant.
Resiko lainnya adalah terbukanya kanal syaraf rahang bawah saat pemasangan implant di rahang bawah belakang. Tetapi hal ini dapat dicegah dengan pengukuran yang akurat tinggi tulang yang tersedia di rahang bawah melalui rontgen panoramik. Seperti pada rahang bawah, pada rahang atas dapat terjadi masuknya implant ke dalam sinus maxilla (rongga udara pada rahang atas). Hal ini juga tidak akan menimbulkan komplikasi kecuali pasien memiliki riwayat infeksi pada sinus maxilla (sinusitis).
Kemungkinan lainnya adalah perdarahan selama prosedur pemasangan implant. Pada keadaan yang sangat jarang, bor untuk persiapan tulang menerima implant di rahang bawah dapat salah arah dan menembus tulang di sisi lidah. Karena di daerah tersebut banyak terdapat pembuluh darah kecil, maka dapat terjadi perdarahan yang cukup banyak. Apalagi bila pasien memiliki gangguan pembekuan darah. Tetapi kejadian yang sangat jarang ini dapat diatasi dengan tehnik yang benar.

Gigi tiruan jembatan,
Kerugian utama adalah perlunya mengasah gigi yang masih baik sebagai penyangga

Berapa lama Implant dapat bertahan di dalam mulut?
Hasil penelitian selama 25 tahun belakangan ini menunjukkan hasil yang sangat baik. Lebih dari 95% implant yang dipasang, dapat berfungsi dengan baik. Setelah 10 tahun, sekitar 90% implant masih dapat berfungsi untuk pengunyahan. Bila oral hygiene (kebersihan mulut) dapat terjaga, implant dapat bertahan seumur hidup.
Coba bandingkan dengan statistik berikut:
1.       80% dari gigi tiruan jembatan masih berfungsi baik setelah 10 tahun.
2.       70-75% jacket crown masih bertahan setelah 10 tahun.
3.       Hanya sekitar 50% dari gigi setelah perawatan saluran akar masih bertahan setelah 10 tahun.
Bila dipikir-pikir lagi, implant mirip dengan gigi asli sendiri. Perasaan ini tidak dapat ditukar dengan uang yang telah dikeluarkan saat pemasangan implant. Dibandingkan dengan gigi tiruan lain (apalagi gigi tiruan lepasan) yang memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi dibandingkan implant. Oleh karena itu, secara finansial, pilihan implant merupakan pilihan yang paling ekonomis.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Drg. Henri Mudjono di nomor telepon yang tercantum.
Selamat menikmati Gigi Asli (implant) Anda!!!